BIDADARI DI UJUNG RAMADHAN

HILAL masih berdiri di depan mihrab masjid desa kelahirannya. Ia hendak menghabiskan malam-malam terakhir ramadhan di masjid yang sudah mulai luruh, sekalipun pilar-pilarnya masih nampak berwibawa menjelang renta.

Hilal. Cukup lama pemuda itu tidak menghirup ramadhan di desa kelahirannya. Sekitar 15 tahun, selepas SMP. Tidak banyak yang berubah dari penampilannya. Hanya saja sikapnya sekarang terkesan lebih serius, berbeda dari kesan bengal dan sembrono, sebagai anak nakal sekampung yang pernah disandangnya.

Allahu akbar,” Hilal membungkuk, ruku’.

“Awas, ketahuan Gus Khalid, ajur rek!” Hilal merenggut kertas surat yang sedang dibaca Hamdi, teman sekamarnya.

Tenaa..ng.., durung mari, Rek,” Hamdi merenggut kembali kertas surat yang semakin lusuh, jadi barang rebutan. “Hehehe…, sumpah aku gak nyangka, kalau Zilla itu romantis juga..,” Hamdi terkekeh sambil terus membaca surat Zilla, anak pesatren putri yang bersebelahan dengan pesantren mereka.

“Kamu serius pacaran sama Zilla?” tanya Hamdi sambil menyerahkan kertas surat cinta berhias bunga merah muda berenda pita biru muda.

Hilal tidak menjawab. Tubuhnya merebah tanpa tenaga, bersandar pada lemari yang berderet-deret memenuhi dinding kamar mereka cukup memberi tahu Hamdi, kebimbangan yang bergelayut di hati Hilal tak kunjung pergi. “Setelah ini aku kuliah di Malang, Zilla mau kuliah di Surabaya.”

“Memang kenapa?”

“Jarak, Ham. Ini bukan novel, sinetron atau telenovela. Realistis saja…”

“Lal, sekalipun Zilla di asrama sebelah, berapa kali sih, kamu ketemua dia dalam sebulan?” selidik Hamdi.

“Beda Ham. Di sini tidak banyak pilihan. Sekolah, ngaji, sekolah lagi, ngaji lagi, sudah… Kalau kuliah kan lain, Ham. Gak ada yang menta’zir kalau pacaran, hahaha….”

Mereka tertawa lepas. Di pesatren mereka, ketahuan pacaran bisa berbahaya. Pemulihan mental bisa meraka jalani sampai ampun-ampun. Mulai menggosok kamar mandi pesantren yang baunya na’udzubillah sampai kinclong, kepala digunduli, hingga didrop out kalau memang bandelnya keterlaluan. (lagi…)

4 comments Mei 19, 2009

Madinah: Kubah Hijau yang Menggetarkan

Jum’ah pagi, 14 Nopember 2008 pesawat Saudi Air mendarat di Madinah. Kota Suci ketiga yang sangat dirindukan oleh umat Islam yang tersebar di seluruh penjuru bumi. Jika Kawan membayar ONH Plus, mungkin Tanah Suci Ketiga ini tidak masuk dalam agenda perjalanan dengan biaya yang lebih mahal. Saat itu iklim Madinah hangat bersahabat (sekitar 26-28 oC), mirip di tanah air, Mojokerto khususnya…

Kawan, saya mendarat dengan segala penasaran membuncah. Kota oase di semenanjung Arab ini namanya sudah saya dengar semenjak masih kecil, menemani tidur dari dongeng ayahku. Nama Madinah makin akrab seiring dengan pertumbuhan usiaku dari para guru dan buku-buku. Semakin akrab lagi ketika aku mengambil studi Syari’ah untuk magisterku, yang pengetahuan tentang tanah suci beserta ahli-nya adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Kawan, seolah jengkal-jengkal tanah Madinah ini aku telah mengenalnya. Berapa banyak sumur dan siapa pemiliknya, juga berapa daftar kekayaan mereka. Sekalipun semuanya masih dalam teori di hati dan kepala –dari Sirah-nya Ibn Ishaq hingga kritik sejarahnya Khalil Abdul Karim. Tapi kali saat ini kawan, untuk kali pertama aku menginjak tanah suci Madinah, menghirup udara Madinah, mereguk air Madinah, mengibaskan debu Madinah.., Madinah…, Madinah.. I am  coming with all my soul.. (lagi…)

1 comment Januari 28, 2009

Kegelisahan Seorang Haji Awam

cimg2906

Keberangkatan yang Menggelisahkan

Kawan, tahun ini saya berkesempatan ibadah haji ke Bayt-u ’l-Lâh. Ke Makah Kawan. Tempat terjauh yang pernah terbayangkan dalam benak kanak-kanak kami.

Dulu ketika masih kecil, terkadang kami membual mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Dan tahukan kawan, kalau ditanya, mana tempat yang paling jauh, pasti kami serempak menjawab, “Jakarta”.

Tapi Kawan, Jakarta masih kalah jauh dengan Mekkah. Ya, Mekkah adalah tempat terjauh yang tak tertandingi. Hanya rembulan yang menerangi kami bermain sruntulan, gobak sodor dan betengan yang bisa mengalahkannya. Memang masa kecil kami bersamaan dengan ‘keajaibain’ pendaratan Apollo 11 yang disiarkan ramai di radio AM kami.

Lungo kaji (berangkat haji), kawan. Saat itu belum ada penduduk di dusun kami yang pernah menginjak tanah suci. Pakdhe saya memang telah berhaji, tapi beliu tidak satu dusun dengan kami. Sekitar 3 bulan waktu beliau butuhkan untuk beribadah haji. Alangkah jauhnya, seperempat tahun kawan, waktu yang digunakan untuk ibadah haji. Bandingkan dengan Paklik saya yang ke Jakarta, belum sebulan saja sudah pulang.

Waktu kecil, ibadah haji adalah mengunjungi Mekkah, suatu tempat yang sangat juuuaauuhh… Ketika menginjak sekolah dasar, gambaran yang lebih lengkap tentang haji mulai saya kenal. Karena di SD sudah mulai dikenalkan 5 rukum Islam, yang salah satunya adalah haji ke Makkah bagi yang mampu..

Hebat kawan, ibadah haji adalah penutup dari 4 rukun Islam yang lain, itupun hanya bagi yang mampu. Di desa kami kawan, jangankan untuk berhaji, yang namanya shalat 5 waktu saja hanya sedikit orang yang mengerjakaan. Sekalipun KTP 99,99 % warga desa kami bertuliskan Islam. Zakat kawan, tidak usah bermuluk-muluk, zakat fitrah yang 2,75 kg beras saja, sedikit keluarga yang mengeluarkannya, sekalipun bukan berarti desa kami adalah desa miskin.

Memang di Bulan Ramadhan desa kami selalu ramai. Mercon (petasan) berledakan besar kecil seperti perang, sebelum pelarangan yang sangat ketat seperti sekarang. Patrol sahur, tarawih menjadi ritual tahunan yang indah, tapi jangan tanya, berapa orang yang puasa, hanya bikin kita kecele’. Dan haji kawan, setidaknya sebagai rukun penutup, –anggapan kami– tentunya rukun-rukun sebelumnya sudah beres. Dan siapa saja yang bisa membereskan kelima rukun Islam ini tentu bukan orang sembarangan. Dianggap bukan lagi orang “sembarangan” ini yang terkadang jadi masalah.

Ketika SMP, saya mulai sedikit mengenal syarat dan rukun haji. Tapi ya itu kawan, tahu hanya sekedar teori. Teori-teori haji mengalami metamorfosis sedikit lebih canggih setelah Ibu mengirim saya ke pesantren menginjak sekolah STM di Jombang. Sedikit canggih karena sudah mulai tahu berseliwerannya banyak pendapat ulama fiqh. Boleh jadi secara teori saat itu cukuplah, dibanding bimbingan yang diberikan kebanyakan KBIH, hehe…, tapi prakteknya nol besar…

Kawan, padangan saya tentang haji mengalami perubahan yang cukup radikal ketika saya sering bergaul dengan teman-teman yang diistilahkan sebagai kelompok sosialis, semasa kuliah. Apalagi 1990-an adalah tahun-tahun di mana pengamat politik mengistilahkan saat “republik sedang hamil tua”. Banyak kontraksi-kontraksi politik membuat aktivis mahasiswa terseret dalam pusarannya. Saat itu saya mulai mengenal tokoh-tokoh yang terindikasi korupsi sekaligus kroni orde baru. Dan tahukah kawan, sebagian besar mereka bertitel haji…

Saat itu saya sudah membaca Orang Jawa Naik Haji-nya Danarto, Makna Haji-nya Ali Syari’ati, juga beberapa kesan hajinya tokoh-tokoh haji yang nyleneh. Tapi kawan, itu tidak juga membantu stigma negatif saya tentang haji. Saya menganggap jahat orang-orang yang berhaji lebih dari satu kali. Betapa tidak, orang-orang yang sudah gugur kewajibannya masih saja terus berhaji dengan biaya yang tidak sedikit di antara orang-orang yang kebutuhan makannya saja masih belum aman. Belum lagi –setahu saya– Rasulullah Saw. hanya sekali berhaji selama hidup beliau.

Terlebih setelah saya membaca tulisan Khalil Abdul Karim yang provokatif tentang peribatan yang kita, kaum Muslim lakukan. Termasuk haji yang baginya hanyalah melanjutkan ritus orang-orang arab kuno yang dihilangkan praktik-praktik syiriknya. Betapa orang-orang mengeluarkan hartanya dengan begitu banyak untuk mengikuti ritus-ritus kuno orang Arab?

Kawan, sekitar sepuluh tahun yang lalu saya pernah mengutip Novelis Brazil, Poulo Chelo ketika menulis tentang haji untuk sebuah bulletin. Dalam novel Alkemis diceritan, seorang tua penjual kristal yang tak beranjak menggunjugi Baytullah, karena itu adalah impian terakhirnya. Ia tak bisa membayangkan jika ia telah berhaji, maka ia tak lagi punya impian. Maka ia akan kehilangan semangat hidup. Ini berbeda dengan si anak gembala –tokoh sentral dalam novel itu– yang berusaha keras menggapai mesir, mencari sang alkemis (pengubah besi menjadi emas).

Pesan Poulo Chelo, hidup harus punya impian yang besar, dan untuk menggapainya, harus kerja keras dengan kesungguhan hati. Hajiku kali ini kawan, apakah juga sebuah impian besar? Jika tidak, maka mentalku tidak akan pernah mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh. Dan, akupun berhaji hanya karena Allah Swt. memberikan kelonggaran materi kepadaku. Na‘udzubillah min zdalik..

ggetarkan

1 comment Januari 20, 2009

DESA NGEMBEH: “Kajian Sejarah”

Pendahuluan

Orang yang tidak tahu sejarah, adalah orang yang tidak tahu apa-apa, begitu kata pepatah Arab. Ingat jas merah, jangan lupa sejarah, kata Bung Karno, Presiden Pertama RI.

Pentingkah kita tahu sejarah? Apa itu sejarah? Menyimak pepatah dan pesan Bung Karno di atas, mengetahui sejarah menjadi sesuatu penting, agar kita tidak terjerembab pada kesalahan yang sama. Bagi kita penganut Agama Islam, mengetahui sejarah menjadi sesuatu yang penting sebagai pembelajaran, Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Hûd [11]: 120.

Apakah sejarah? Mungkin kita masih ingat pelajaran di sekolah dulu. Bagi ahli sejarah, tulis-menulis adalah pembagi dua era, era prasejarah dan era sejarah. Akibatnya, sebesar apapun kontribusi seseorang maupun komunitas bagi peradaban belumlah dianggap sebagai sejarah –paling jauh dianggap dongeng maupun lengenda– jika tidak terdapat dokumentasi atau artefak penanda / simbul. Jadi secara teknis, sejarah adalah segala sesuatu dan apa saja pada waktu yang telah lewat yang didokumentasikan oleh sebuah penanda / simbul. Mungkin kegiatan (penulisan sejarah desa) ini juga bagian dari memasukkan foklor desa ke dalam sejarah.

Waktu sendiri, secara filsafat adalah durasi antar kejadian. T (lagi…)

Add comment Agustus 27, 2008

Kebencian Adalah Cinta Yang Terluka

Bism-i ’l-Lâh-i ’r-rahman-i ’r-rahîm..

Assalâmu ‘alaykum Wr. Wb.

Adik Dyan,

Sungguh…, teramat jarang saya menulis dengan jiwa tertekan begitu dalam, seperti saat ini. …Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.., (QS. Yusuf [12]: 86). Namun, diiringi murrattal Juz 30 Syeh Mishary Rashid al-Afa yang mendedah hati duka, saya berusaha terus menulis dan berharapan, semoga Adik Dyan sempat membaca hingga usai…

Dik Dyan, betapa sedih hati ini, tanaman yang kutaburkan dengan tanganku sendiri kini telah porak poranda oleh ulahku sendiri. Aku seperti …perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (QS. An-Nahl [16]: 92). (lagi…)

1 comment Agustus 21, 2008

Dahulukan akhlaq di atas Fiqh

Bism-i ’l-Lâh-i ’r-rahman-i ’r-rahîm..

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. an-Nisâ’ [4]: 1).

Konsultasi?! Wah mBak, saya bukan konselor. Apalagi dukun (bodho pikun, hehe…). So, kalau ada masalah sharing dengan saya, dijamin, masalahnya ndak tambah selesai-selesai, hehe…

Trim’s untuk komentarnya, di sela-sela kesibukan mBak Dyan yang padat.

Komentar mBak Dyan membuat saya tidak bisa menulis apa-apa kali ini, minder berat, hehe…. Saya bukan penulis, mBak. Cuma di waktu senggang (walah…, padahal ndak pernah sibuk) biasanya saya gunakan membaca. Dan dari bacaan itu saya jadi sedikit faham, kenapa dunia tulis-menulis jadi pembeda antara era sejarah dengan era pra-sejarah. Karya tulis itu mengenalakan saya padaa mereka beserta pandangan hidupnya sekalipun mereka telah wafat berabad-abad silam. Mereka menjadi entitas sejarah. (lagi…)

Add comment Agustus 21, 2008

Tanpa Referensi di Tanda Koma

Bism-i ’l-Lâh-i ’r-rahman-i ’r-rahîm..

…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (berketapan hati), maka bertawakkallah kepada Allah…(QS. Ali Imrân [3]: 159.)

mBak Dyan….

Sungguh saya mohon maaf, jika memang hari-hari mBak Dyan kurang nyaman akhir-akhir ini. Mungkin ini disebabkan kesalahan saya (yang kuno dan tradisional ini) memaknai sikap diam mBak Dyan. Sekali lagi saya mohon maaf!

Dulu, ketika saya ngaji fiqh –sepengetahuan saya yang bodoh– ketika seorang gadis berdiam diri ketika ada yang berniat mengenalkan diri, itu bermakna ada peluang untuk membuka hati. Yang ini tidak berlaku bagi seorang perempuan yang pernah menikah (janda). Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. (QS. al-Baqarah [2]: 235)

mBak Dyan, ternyata saya salah. Tidak semua gadis yang berdiam diri itu membuka peluang pintu hatinya diketuk laki-laki yang berniat mengenalnya. Ah, zaman bergerak teramat cepat, yang tak sanggup aku pahami sekalipun dalam mimpi, meminjam istilah Khalil Gibran. (lagi…)

Add comment Agustus 21, 2008

Tanpa Referensi

Walah-walah kena semprot habis, nih… Saya benar-benar mohon maaf, sungguh bukan maksud hati bikin teka-teki. Kalau saya baru bisa balas, mohon maklum, infrastruktur IT-nya belum mendukung.

Pertanyaan siapa saya, sejujurnya bikin saya mrinding. Karena saya bukanlah siapa-siapa. Hidup saya masih belum banyak bermanfaat. Saya jadi teringat M. Iqbal (pujangga Muslim dari India/ Pakistan), ketika ditanya siap dia. Inilah jawabannya, “Sebetulnya, aku sendiri tidak perduli dengan diriku sendiri. Aku pun juga ingin sekali mengetahui apakah aku ini benar-benar aku. Iqbal tidak pernah perduli apakah Iqbal benar-benar ada. Ini merupakan sebuah fakta, dan bukan main-main.”

Saya mungkin bagian dari ketidakjelasan itu, hehe…. Oke-oke, ini jelas bukan jawaban yang Sampeyan harapkan. Tapi dari mana saya memulainya, jika kita memang benar-benar belum pernah bertemu sebelumnya. Konon karya ilmiah tidak akan diakui tanpa referensi yang sahih di bidangnya. Barangkali cara mengenalkan diri saya ini juga tidak ilmiah, karena tidak ada yang mereferensikan sebelumnya. Sementara Pak Kus, yang saya harapkan bisa menjadi catatan kaki dan menjembatani kita, ternyata belum lagi bisa menjadi referensi yang memadai. (lagi…)

Add comment Agustus 21, 2008

TADARRUS RAMADHAN

Mungkin tidak ada kitab / bacaan yang dibaca begitu masif di bulan ini, melebihi al-Qur’ân. Kitab suci kita, yang untuk kali pertama turun juga di Bulan Ramadhan.1 Al-Qur’ân dibaca di masjid-masjid, di langgar atau mushalla, bahkan di perkantoran yang memungkinkan dilakukan kegiatan itu. Darusan, begitu istilah kita, untuk kegiatan membaca al-Qur’ân secara tarlil,2 dan biasanya dikelilingi beberapa orang yang menyimak sambil menyantap puluran (makanan kecil) yang disediakan para simpatisan.

Ini juga yang telah dilakukan oleh para leluhur kita sejak masa Kanjeng Nabi Muhammad Saw.3 Bedanya barangkali, kalau dulu tidak pakai corong (pengeras suara) sehingga pendengarnya lebih terbatas, dan hanya mereka yang betul-betul mau saja yang menjadi pendengarnya. Selain itu suara tidak bisa dimanipulasi, yang merdu enak di telinga, yang fals pendengarnya mesti lebih bersabar. Kalau sekarang, tidak banyak majelis darusan yang tidak menggunakan pengeras suara, jadi mau tidak mau pendengarnya menjadi lebih banyak. Menjadi pendengar yang sukarela (ikhlas), maupun terpaksa. Demi dakwah, Men…

Ada dua hal yang menggelitik saya tentang bacaan agung ini. Pertama, sejarah membuktikan daya tahan al-Qur’ân terhadap masa / zaman. Bayangkan 14 abad lebih dengan pengucapan yang nyaris konstan!4 Tanya kenapa? Kedua, al-Qur’ân yang telah menjadi inspirasi utama kaum Muslim seringkali melahirkan manusia-manusia yang membangun peradaban dengan cara-cara yang sangat mengagumkan, namun terkadang, lahir pula dari pembaca al-Qur’ân para penghancur peradaban yang tak kalah mengerikan. Lalu kita bagian dari yang mana? (lagi…)

1 comment Agustus 21, 2008

PNPM DAN SOSIOLOGI PEDESAAN KITA

Tergulung 3 Gelombang

Ketika saya diminta untuk menjadi salah satu eksponen (KPMD) program PNMP yang salah satu tugasnya adalah untuk memperkenalkan RPJMDes, saya jadi teringat ketika pertemuan musyawarah desa untuk merehabilitasi balai desa beberapa bulan sebelumnya.

Saat itu saya bertanya tentang RPJMDes kepada kepala desa yang baru terpilih beberapa bulan sebelumnya. Peserta musyawarah seketika tertawa. Bagaimana berfikir tentang RPJMDes, lhawong rehabilitasi balai desa saja masih dalam tahap rencana, begitu argumen mereka.

Saya teringat akan moment itu karena menyadarkan saya, ada kesenjangan akses informasi di dalam masyarakat pedesaan kita. Ada lapisan masyarakat yang melek informasi dan memanfaatkan media yang tersedia, mulai media massa cetak, radio, televisi bahkan internet. Ada lapisan lain yang semua media itu masih merupakan sesuatu yang mewah. Kalaupun ada fasilitas seperti radio dan televisi, fungsi utamanya adalah untuk mendapatkan hiburan, bukan sebagai sarana informasi.

Saya mungkin terlalu naif, kalau berfikir pemerintahan di tingkat desa akan bisa sebangun dengan teori yang ada di PP. No. 72 Tahun 2005. Termasuk tentang RPJMDes yang sudah dijelaskan pada Bab VI Pasal 62-66 pada PP tersebut. Namun akhirnya saya maklum, tidak semua orang berkesempatan untuk membaca PP tersebut. Mengajak mereka berdiskusi tentang ini tidaklah pada tempatnya.

Di akhir tahun 1980-an hampir semua akademisi yang tidak mengenal futurolog Alvin Toffler dengan bukunya The Clash of Civilitation dan The Third Wave yang membagi peradaban dalam 3 gelombang; agraris, industri dan informasi. Nyatanya bangsa kita tidak pernah benar-benar jelas sedang memasuki gelombang yang mana.

Sebagian besar dari kita masih agraris, meskipun dengan lahan yang semakin menyempit. Namun pada saat yang sama di Papua pertanian tradisional saja mereka masih belum mengenal. Sementara di sebelah rumah kita ada warnet yang melewatinya kita bisa menjelajahi dunia, tidak hanya bisa mengakses situs porno…. Sementara di sebelah kecamatan kita, banyak pabrik berdiri bagian dari ikon industri.

Di tengah terpaan 3 gelombang peradaban dan badai-badai ekonomi lainnya –seperti krisis moneter, krisis ketahanan pangan dan krisis energi– PNPM diperkenalkan di desa kami.

PNPM dan psudo-Demokrasi

Saya setuju ketika PNPM dalam programnya sangat memperhatikan aspirasi masyarakat. Namun dengan kondisi masyarakat yang tersegmentasi a la Tofflerian, apakah PNPM bisa berhasil dengan baik? Benarkan PNPM memang berjiwa ekonomi-demokratis? Apakah hanya demokrasi yang bisa membuat masyarakat menjadi sejahtera? Kenapa Barat begitu getol mengkampanyekan demokrasi politik kepada negara lemah alias Negara Dunia Ketiga?

Saya sendiri tidak begitu yakin dengan masyarakat yang tersegmentasi a la Tofflerian demokrasi bisa berjalan dengan sehat. Yang sering diabaikan oleh banyak orang, demokrasi membutuhkan beberapa syarat dan memiliki beberapa cacat bawaan. Jauh 3 abad sebelum masehi filosof beken Socrates sudah mengeluhkan cacat bawaan demokrasi. “Bagaimana mungkin dirinya yang tiap hari bergelut di bidang ilmu, filsafat dan mengajar, suaranya dianggap sama (one man one vote) dengan tukang kayu yang kesehariannya disibukkan dengan kerja tenaga,” keluhnya. Bagaimanapun orang yang berilmu mempunyai cara pandang yang lebih lengkap dibanding yang tidak berilmu.

Inilah satu di antara beberapa cacat bawaan demokrasi seperti yang ditulis Goenawan Mohamad dalam buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi. Sekalipun begitu demokrasi masih merupakan sistem yang masuk akal dengan tanpa mengabaikan cacat bawaan dan beberapa prasyarat yang mesti dipenuhi. Bagi saya, realitas masyarakat yang tersegmentasi Tofflerian maka PNPM tingkat keberhasilan substansialnya bisa jadi relatif rendah, sekalipun secara artifisial mungkin terlihat berhasil.

Benarkan PNPM memang berjiwa ekonomi-demokratis? Dengan tingkat prosedur-formal dan administrasi yang ribet, jelas ini bukan yang diinginkan oleh masyarakat desa yang sederhana. Keluhan ini tidak hanya oleh warga masyarakat, bahkan oleh KPMD sendiri. Saya menyadari, mungkin ini bagian dari pembelajaran bagaimana seharusnya pemerintahan desa pada akhirnya berjalan, sesuai dengan PP. No. 72 Tahun 2005 yang telah dirumuskan di Jakarta. Lagi-lagi top-down. Dan mengajari masyarakat yang harus berfikir, besok masih bisa makan tidak, butuh ketelatenan lebih. Dalam hal ini, saya hormat pada tim konsultan yang mendampingi program PNPM ini.

Apakah hanya demokrasi yang bisa membuat masyarakat menjadi sejahtera? Sejarah telah mengajarkan, untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan demokrasi bukanlah jalan satu-satunya. Ambil contoh Singapura dan China, demokrasi politik relatif terbelenggu dibandingkan dengan Indonesia. Namun kedisiplinan, kerja keras, perang sungguh-sungguh terhadap korupsi dalam negeri, berhasil mengantarkan kedua negara itu ke garis yang lebih sejahtera dibandingkan negara kita. Dan di Yunani, di mana demokrasi tercatat paling tua dalam sejarah, demokrasi tidaklah berjalan linier dan bisa mengantarkan masyarakatnya ke garis kesejahteraan secara konstan.

Kenapa Barat begitu getol mengkampanyekan demokrasi politik kepada negara lemah alias Negara Dunia Ketiga? Chandra Muzaffar seorang aktivis HAM Malaysia dalam buku HAM dan Tata Dunia Baru meneggarai, dengan digelarnya demokrasi tanpa dilengkapi prasyaratnya seperti kemakmuran, persamaan terhadap akses informasi dan sebagainya, justru akan mempermudah Barat/Utara mempertahankan hegemoninya. Karena dalam prisma sosial, masyarakat yang menjadi lapisan terbawah adalah mayoritas namun aksesnya terhadap kemakmuran dan informasi yang lebih terbatas. Maka dengan kekuatan media dan modal, massa mayoritas itu relatif bisa dikendalikan dibandingkan kelas kelompok menengah yang memiliki akses terhadap informasi dan kemakmuran lebih baik.

Walhasil, inilah kesimpulan saya, bahwa

  1. PNPM merupakan program yang baik, jika saja lebih ergonomis, efisien dan berdaya guna, dan yang paling penting ankuntabel. Tidak seperti sekarang yang terkesan ribet dan boros sumber daya manusia (SDM).
  2. Prosedur yang ribet dan tidak mengakar, jelas bukan cermin demokrasi yang sesungguhnya. Karena yang diinginkan masyarakat desa adalah prosedur yang sederhana tanpa kehilangan prinsip akuntanbilitasnya.
  3. Demokrasi tidak selalu sebangun dengan kesejahteraan sosial.

Mojokerto, 26 Mei 2008

1 comment Agustus 15, 2008



Selamat Datang

 

November 2009
S S R K J S M
« Mei    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Tulisan Terakhir

Kategori

Komentar Terakhir

yobroo di Madinah: Kubah Hijau yang…
justdy di BIDADARI DI UJUNG RAMADHA…
Galuh di BIDADARI DI UJUNG RAMADHA…
fath di BIDADARI DI UJUNG RAMADHA…
ummu fatimah di BIDADARI DI UJUNG RAMADHA…

Blog Stats

Klik tertinggi

Meta

Kamus OnLine

Blog Orang Beken

Blogroll

Friends

Kajian Islam

Situs Keislaman