Islam Saya (2): Di Malang
Tahun 1993 saya masuk kota Malang. Kota kecil dengan sejuta potensi. Jalan Kertoraharjo Ketawanggede menjadi labuhan kedatangan saya dari Jombang. Om Jhon, anak PII adalah karib pertama saya di Malang. Anak PII asal Ngadiluwih Kediri yang lelap tidurnya diiringi cerita-cerita aksi sepihak PKI/BTI kepada Training PII tanggal 19 Januari 1965 di Kanigoro, Kras, Kediri. Cerita yang membuatnya selalu sigap melawan pihak-pihak yang dianggap membahayakan umat Islam.
PII menolak azas tunggal Pancasila, sikap yang diambil dengan resiko menjadi ormas “underground”. Militan?! Sudah pasti. Sekalipun (maaf) tidak begitu pandai mengaji, tapi semangat juangnya lebih bergelora dibanding kebanyakan anak-anak santri. Terutama dibanding saya yang baru pulang dari pesantren. Jika sebelumnya saya berbekal segebok kosep faham keislaman yang kebanyakan dari abad pertengahan, di hadapan saya tanpa banyak konsep tapi ideologis dengan semangat yang menggedor-nggedor.
“Persekutuan aneh”. Mungkin secara tidak sadar watak “militansi” a la PII merembes dalam kehidupan saya, sekalipun secara ideologi belum juga terbentuk. Sebaliknya, dengan nada seloroh Om Jhon seringkali berkata, sayalah yang paling merusak militansinya. Misalnya, setelah saya bercerita proses terjadinya shalat tarawih berjama’ah di masjid pada zaman Khalifah Umar Ra. Saat malas datang ketika malam Ramadhan, dengan seloroh ia pun menjawab, sudah tahu kalau tarawih berjama’ah bid’ah kok masih ngajak-ngajak, jawabnya sambil tertawa-tawa.
Begitu pun ketika saya bercerita pengumpulan Qur’an, bagaimana Abu Bakr Ra. semula menolak usulan Umar Ra. dengan alasan, itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. hingga Umar perlu mengulang usulannya. Begitupun ketika instruksi ini diberikan kepada Zaid bin Tsabit, jawab Zaid, Rasul tidak pernah melakukan ini. Dan ini dibahas Imam Bukhari, otoritas tertinggi dalam bidang Hadis Sunni.
Saya tidak pernah mengatakan tindakan ini bid’ah. Tapi ia yang dibesarkan di Muhammadiyah yang pada sejarahnya mengusung jargon TBC (tahayul, bid’ah dan curafat) seperti menangkap arah pikiran saya. Kalau tidak ada bid’ah dan bid’ah lagi, mungkin kita tidak pernah bisa membaca Qur’an lagi, lhawong tulisan arab zaman Nabi Saw. tidak ad kharakat-nya, bahkan tidak ada titiknya, seloroh saya nyengir. Kecuali kalau membaca Qur’an bukan bagian dari ibadah, selesai sudah. Belum lagi kalau saya ceritakan suasana sosial-politik zaman sahabat dan dan tabi’in menurut literatur Syi’ah. Tambah pusing kita membedakan mana sahabat yang lurus, mana yang “kurang lurus”.
Persekutuan aneh ini diayomi oleh Mas Yusuf, mahasiswa kharismatik yang saleh. Beliau senior saya di pesantren, berasal dari Ngadiluwih asal Om Jhon. Mas Yusuf berkepribadian tenang, hampir sulit kami menemukan ekspresi berlebihan dari roman wajah beliau yang klemis rapi dan selalu tersenyum itu. Perilakunya yang santun, sederhana membuat setiap orang tua yang normal, bisa dipastikan kepincut ingin mengambil mantu Mas Yusuf. Konon, ia juga pernah digadang-gadang jadi menantu Abah Kyai, tapi Mas Yusuf-nya tidak bersedia. Konon lhoo…..
Beda dengan saya yang dari NU masuk pesantren NU, Mas Yusuf Muhamaddiyah masuk pesantren NU. Karena racikannya beda, hasil citra rasanya pun beda. Mas Yusuf menjadi salafi yang santun. Beliau mengajari saya bagaimana menjadi Muslim yang baik. Pada malam tertentu saya dibonceng dengan Honda Supercup 800 warna hitam yang sudah dimilikinya sejak di pesantren dulu. Secara matematika ekonomi, ia bisa mendapatkan lebih dari itu. Terlebih beliau anak tunggal. Jangan hambur-hamburkan sumberdaya, masih banyak yang lebih membutuhkan, begitu katanya. Dengan sepeda motor yang umurnya sudah lebih dari 10 tahun kala itu kami menyusuri jalan sore menuju Wajak. Mengaji Shahih Bukhari pada Ustadz Rahmad al-Arifin, ulama alumni Madinah dengan predikat Cumlaude, yang berusaha memindah arsitektur masjid madinah ke Wajak.
Saya juga pernah diajak ke Peniwen, Donomulyo tempat Kristenisasi yang sempat menghebohkan, lalu terlibat dalam upaya advokasi kaum Muslim yang ditindas. Pernah juga dengan sepeda yang itu-itu juga, saya dibonceng ke Gunung Kawi, tempat kemusyrikan paling wahid di Jawa, kata Mas Yusuf. Yang unik lagi dari Mas Yusuf, setiap nderes Qur’an, ia menterjemahkannya secara lantang. Sekalipun seorang diri di kamar.
Sampai akhirnya Mas Yusuf mendapati buku Falsafatuna-nya Muhammad Baqir as-Sadr di kamar saya. Tanpa ada perubahan sedikitpun di roman wajah dan seraya tersungging senyum di sudut bibir ia berkata, “Dik, tidak perlulah kita membaca buku-buku seperti ini. Tidak banyak manfaatnya.” Salafi yang santun. Bandingkan dengan rata-rata penganut salafi lain yang seringkali mengobarkan fahamnya dengan membidas dan “memaki” faham lain. Sampai saat ini saya belum pernah berinteraksi penganut salafi yang begitu santun.
Bukanya berhenti. Saya malah penasaran sama filsafat Islam. Jurnal Ulumul Qur’an Vol. IV, No. 3 terbitan LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) menjadi pengantar saya untuk mendapatkan semua edisi terbitannya. Lalu jurnal Al-Hikmah-nya Yayasan Munthahhari yang dianggap kesyi’ah-syi’ahan, Islamika-nya MISSI (Masyarakat Indonesia untuk Studi-Studi Islam). Sementara interaksi dengan Mas Yusuf semakin jarang. Beliau sudah menyelesaikan studinya di Teknik Mesin Brawijaya lalu kerja di Gresik. Om Jhon yang mengiringi petualangan pikiran saya semakin realistis (makin “rusak” menurut ungkapannya) menyikapi banyaknya faham-faham yang berkembang di Dunia Islam sejak zaman sahabat sebagai zaman sekarang.
Saat di Ketawanggede kontrakan kami menjadi markas anak-anak majalah mahasiswa di sekitar Unibraw. Tentu saja dengan persaingan Omek (organisasi ekstra kampus) dibelakangnya. Saat itu HMI, PMII, GMNI dan anak-anak Fordem (Forum Demokrasi) menjadi warna dominan di majalah kampus. Kenapa kontrakan kami? Ya, kontrakan kami ada rental komputer. Di sinilah teman-teman menggodok materi yang akan diterbitkan. Jangan bandingkan suasana “hamil tua reformasi” dengan sekarang. Mesti ekstra hati-hati menurunkan materi yang dimuat, kalau tidak mau besok menginap di Bakorstanasda. Kalau MBM Tempo, Editor dan Detik saja bisa “ditekuk”, apalagi kelas teri di kampus-kampus. Bisa-bisa tinggal nama saja di daftar redaksi, orangnya “hilang”.
Keluar masuknya teman-teman semakin membentangkan cakrawala saya untuk tidak cuma berkutat dengan tugas kuliah. Selain itu teman-teman tabligh hampir tiap hari mampir ke rumah. Menyirami ruhani kami dengan nasehat-nasehatnya. Beberapa kali saya berkunjung ke Masjid Pelma markas Jama’ah Tabligh di Malang. Namun pikiran saya yang sudah bersentuhan dengan pijar filsafat Islam terlalu berkobar untuk bisa ikut begitu saja semua program-program Jama’ah Tabligh yang menurut saya “kurang strategis” dalam berdakwah.
Ruang kelas kecil di pojok kampus yang disulap menjadi mushalla menjadi ampiran saya jika waktu shalat datang ketika kuliah. Mushalla darurat kecil yang kurang layak dibanding kampus yang cukup besar. Ketika ngantri shalat seorang mahasiswa senior menghampiri saya, namanya Mas Yusriansyah. Beliau bercerita pertentengan vertikal antara mahasiswa Muslim di ITN dengan pengendali ITN yang mayoritas non-Muslim. Mahasiswa “pembangkang” ini menghimpun dalam LDI (Lembaga Dakwah Islamiyah), LDK (Lembagan Dakwah Kampus)-nya ITN. Bukan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) lho…, karena seringkali orang salah sangka. Saya yang sendang mengikuti perkembangan theologi pembebesan ikut tersulut oleh provokasi Mas Yus.
Pada akhirnya LDI menjadi tempat saya kuliah mulai tahun ‘94, namun saya aktif di ITN angkatan ’93, begitu seloroh kami ketika itu. Seloroh yang jika dipikir-pikir ada benarnya. Kami lebih aktif di LDI dari pada kuliah. Di LDI saya bertemu dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang beragam dari seantero Indonesia. Ada NU-Muhammadiyah yang harus menunda debat khilafiyahnya, demi menghadapi masalah yang sama. Ada HMI-PMII yang harus menurunkan benderanya demi bendara LDI yang sedang “berseteru” dengan struktural kampus. Ada mahasiswa yang semangatnya luar biasa membela kaum Muslim, sekalipun shalatnya jarang-jarang. Ada yang shalatnya terlihat khusu’ dan pandai mengaji, tapi kalau pas genting-gentingnya ia lari duluan. Ada yang pacaran saja. Ada yang seniman baru kelihatan kalau pas ada perhelatan yang musik dan dekorasi. Intinya, di LDI saya menemukan beragam potensi mahasiswa -tentu saja sebanding dengan beragam potensi konfliknya- mencoba untuk dikelola menjadi energi yang mempunyai tujuan yang sama: Mahasiswa Muslim di ITN dan sekitarnya menjadi lebih baik dengan semangat Islam.
LDI hampir “memakan” umur saya di Malang (Bersambung…)
Islam Saya (1)
“Islam mu masih liberal, Fath?” tanya Mas Pri, teman lama aktivis Arimatea yang nyambung lagi lewat FB.
“Islam liberal itu apa, Mas?”
“Yo seperti awakmu itu,” balas Mas Priambodo, ST.
Kami pun cengengas-cengengesan lagi a la dunia maya. Mas Pri sahabat lama. Kenal beliau sejak masa Ospek mahasiswa baru. Beliau senior saya yang kebagian memberi hukuman. Sialnya saya termasuk mahasiswa yang tidak mudah dikendalikan dan bikin ketentraman superioritas senior terancam. Kesialan ini yang seringkali mempertemukan kami.
Kenapa saya terlabeli Islam Liberal? Apakah benar saya liberal? Apa yang membedakan saya dengan teman-teman yang lain?
Saya tidak tahu persis kenapa teman-teman labeli saya liberal. Yang saya ingat, ketika pertengahan tahun 90-an saat faham keislaman (tarbiyah, HTI, salafi, HMI, PMII dls.) saling bersaing menancapkan pengaruhnya di organisasi keislaman intra-kampus, termasuk masjidnya, saya termasuk bukan orang partisan dengan mendukung salah satunya.
Bagi saya, organisasi intra-kampus lebih baik independen dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Konsekuensinya saya harus membuka fikiran bagi orang-orang yang berseberang faham dengan Islam saya, termasuk membebaskan masjid markas kami, berlangganan media (beletin, selebaran, jurnal) dari semua jenis faham yang saling bersaing.
Barangkali dari sini orang mengenal saya sebagai liberal, membebaskan kawan-kawan dan jama’ah masjid membaca langsung dari media-media yang berseberangan yang mencoba menjajakan faham keislamannya. Saya fikir dengan berinteraksi langsung dengan berbagai macam warna keislaman bisa sedikit meluruhkan fanatisme faham yang tidak perlu. Karena sudah menjadi rahasia umum, setiap faham pasti mengunggul-menangkan fahamnya sendiri, dan itu sah-saja. Tetapi menjelek-jelekkan faham lain orang lain dengan mendistorsi/ memlintir pendapat lawan, ini yang tidak boleh. Itulah sebabnya semua harus diberi kesempatan untuk bicara sendiri, bukan dari penilai faham lain. Termasuk Syi’ah pun boleh berbicara. Ini kami lakukan di pertengahan tahun 90-an dengan mengundang Said Aqil Siradj (sekarang Ketua Umum PBNU yang saat itu baru beberapa bulan pulang nyantri dari Saudi), dari kedutaan Iran dan DDI.
Dengan demikian apakah saya termasuk liberal?! Padahal saya tidak mempunyai hubungan dengan komunitas yang bermarkas di Utan Kayu itu, selain dengan Catatan Pinggir Goenawan Mohamad di MBM Tempo, pentolan komunitas itu.
Tanpa menjadi partisan, bukan berarti saya tidak mempunyai akar tradisi keislaman yang mewarnai hidup ini. Orang tua saya NU, maka tradisi inilah yang saya cerap sejak kecil. Tapi sekali lagi, mungkin saya bukan bagian dari NU yang banyak distereotipkan banyak orang, bahwa NU itu semi kejawen. Di komunitas kami, ada orang Muhamaddiyah yang lebih suka slametan yang bisa diinisiasikan sebagai bagian dari Islam Jawa, dibanding saya.
Apakah saya liberal? Jika saya tidak mau “asal tunduk” dengan pendapat orang lain (kecuali Qur’an dan Sunnah), barangkali, iya. Tetapi jika liberal dalam pengertian ideologi, tentu saja tidak. Di zaman Cak Nur (Nurcholis Madjid), ada debat seputar sekular, sekularisasi dan sekularisme. Perdebatan itu barangkali bisa sedikit membantu pemaham kita.
Tidak mau “asal tunduk” barangkali ini kuncinya. Ini mengingatkan saya ketika hampir dikeluarkan dari pesantren. Di awal tahun 90-an saya pernah bermukim di sebuah pesantren ± 3 km arah barat Kota Jombang. Pesantren NU tentu saja. Sebagaimana banyak pesantren NU yang (mohon maaf) “gagap” terhadap masalah kepemikikan asset pesantren. Sudah menjadi rahasia umum, banyak pesantren status assetnya belum “jernih”, mana yang milik pesantren (sebagian besar dari waqaf) mana yang milik generik dimiliki oleh pengasuh (kyai). Saya beruntung, sempat menjadi santri sorang kyai yang sangat bijaksana. Beda pandangan persoalan sensitif ini tidak mementalkan saya dari pesantren secara tidak hormat. Pada saat yang sama, beliau mengajari saya mengelola perbedaan dengan bijak.
Pemilu di awal 90-an sekali lagi menjadi jejak ketidak asal tundukan. Ayah dan Ibu saya yang PNS sudah pasti dipaksa menjadi Golkar. Ya dipaksa. Di tahun 70-an gaji ayah pernah “ditahan” karena afiliasi politik NU yang masih ke PPP. Baru setelah Muktamar NU 1984 yang kembali ke khiththah ayah saya menjadi tergolkarkan. Namun saya melawan, saya tak mau menjadi golkar. Saya memilih PPP yang lebih idealis-realis dibanding Golkar dan PDI ketika itu.
Jejak-jejak ini yang membuat saya tumbuh dalam “pergolakan” terus menerus, termasuk dalam perkembangan keislaman saya. SMP adalah masa pertama saya mengenal paham di keislaman selain NU, yaitu Muhammadiyah. Sayang setting politik saat itu sedang “menganaktirikan” NU. Sudah menjadi rahasia umum, saat itu menjadi NU harus siap-siap dikucilkan dan diganjal kariernya. Terutama di Departemen Agama. Akibatnya munculah fenomana kelompok MUHAMADDINU, orang Muhammadiyah yang bertradisi NU. Menjadi Muhammadiyah untuk tampil di kantor, diam-diam kembali ke tradisi NU ketika di rumah.
Di usia SMP ini seringkali saya membawa buku-buku hasil batsul masa’il sebagai bahan perdebatan dengan guru agama yang Muhammadiyah, atau anak-anak Muhamaddiyah yang jumlahnya saat itu minoritas. Perdebatan yang menggelikan jika diteropong dari keinsyafan pada masa-masa berikutnya.
Jika ketika usia SMP keislaman saya diwarnai dengan perdebatan furu’iyah sepele. Maka di usia STM -usia yang mewajibkan saya harus menyantri- persoalan fundamental keislaman mulai dipertanyakan. Saat itu dimulailah perkenalan dengan teori ilmu kalam khususnya Asy ‘Ariyah dan Maturuddiyah. Saat itu saya sudah mulai membaca Khazanah Intelektual Islam (Jakarta, Bulan Bintang, 1982) tulisan Cak Nur. Dan melalui Jawa Pos yang ditempel di koran sekolah saya mengikuti Pidato Kebudayaannya di Taman Ismail Marzuki.
Tahun 1993 saya masuk kota Malang. Kota dengan sejuta potensi.
[Bersambung...]
Pesan Untuk Anakku
Spiritualis tanpa aktifisme adalah klenik…
Aktifisme tanpa spiritualis sejenis kebrutalan…
Brutalkah ayahmu? Malam ini ayahmu tersudut, hampir 5 bulan ini ayah bergerak, bergerak dan terus bergerak. Tapi sungguh ayah belum mengerti, 5 bulan terakhir ini ayah bergerak untuk apa? Setahu ayah, ada orang yang tidak pernah berhenti bergerak karena mengejar sesuatu, atau dikerjar sesuatu.
Tapi sungguh anakku, malam ini ayah benar-benar tak tahu, ayah mengejar apa? Dan sedang dikejar apa? Ayah merasa, ibumu sedang berubah. Anakku, ibumu orang yang baik, sangat baik malah. Jika saat ini terasa ada yang berubah, hampir 100% bisa dipastikan ada yang tidak beres pada diri ayahmu. Read more…
BIDADARI DI UJUNG RAMADHAN
HILAL masih berdiri di depan mihrab masjid desa kelahirannya. Ia hendak menghabiskan malam-malam terakhir ramadhan di masjid yang sudah mulai luruh, sekalipun pilar-pilarnya masih nampak berwibawa menjelang renta.
Hilal. Cukup lama pemuda itu tidak menghirup ramadhan di desa kelahirannya. Sekitar 15 tahun, selepas SMP. Tidak banyak yang berubah dari penampilannya. Hanya saja sikapnya sekarang terkesan lebih serius, berbeda dari kesan bengal dan sembrono, sebagai anak nakal sekampung yang pernah disandangnya.
“Allahu akbar,” Hilal membungkuk, ruku’.
“Awas, ketahuan Gus Khalid, ajur rek!” Hilal merenggut kertas surat yang sedang dibaca Hamdi, teman sekamarnya.
“Tenaa..ng.., durung mari, Rek,” Hamdi merenggut kembali kertas surat yang semakin lusuh, jadi barang rebutan. “Hehehe…, sumpah aku gak nyangka, kalau Zilla itu romantis juga..,” Hamdi terkekeh sambil terus membaca surat Zilla, anak pesatren putri yang bersebelahan dengan pesantren mereka.
“Kamu serius pacaran sama Zilla?” tanya Hamdi sambil menyerahkan kertas surat cinta berhias bunga merah muda berenda pita biru muda.
Hilal tidak menjawab. Tubuhnya merebah tanpa tenaga, bersandar pada lemari yang berderet-deret memenuhi dinding kamar mereka cukup memberi tahu Hamdi, kebimbangan yang bergelayut di hati Hilal tak kunjung pergi. “Setelah ini aku kuliah di Malang, Zilla mau kuliah di Surabaya.”
“Memang kenapa?”
“Jarak, Ham. Ini bukan novel, sinetron atau telenovela. Realistis saja…”
“Lal, sekalipun Zilla di asrama sebelah, berapa kali sih, kamu ketemua dia dalam sebulan?” selidik Hamdi.
“Beda Ham. Di sini tidak banyak pilihan. Sekolah, ngaji, sekolah lagi, ngaji lagi, sudah… Kalau kuliah kan lain, Ham. Gak ada yang menta’zir kalau pacaran, hahaha….”
Mereka tertawa lepas. Di pesatren mereka, ketahuan pacaran bisa berbahaya. Pemulihan mental bisa meraka jalani sampai ampun-ampun. Mulai menggosok kamar mandi pesantren yang baunya na’udzubillah sampai kinclong, kepala digunduli, hingga didrop out kalau memang bandelnya keterlaluan. Read more…
Madinah: Kubah Hijau yang Menggetarkan
Jum’ah pagi, 14 Nopember 2008 pesawat Saudi Air mendarat di Madinah. Kota Suci ketiga yang sangat dirindukan oleh umat Islam yang tersebar di seluruh penjuru bumi. Jika Kawan membayar ONH Plus, mungkin Tanah Suci Ketiga ini tidak masuk dalam agenda perjalanan dengan biaya yang lebih mahal. Saat itu iklim Madinah hangat bersahabat (sekitar 26-28 oC), mirip di tanah air, Mojokerto khususnya…
Kawan, saya mendarat dengan segala penasaran membuncah. Kota oase di semenanjung Arab ini namanya sudah saya dengar semenjak masih kecil, menemani tidur dari dongeng ayahku. Nama Madinah makin akrab seiring dengan pertumbuhan usiaku dari para guru dan buku-buku. Semakin akrab lagi ketika aku mengambil studi Syari’ah untuk magisterku, yang pengetahuan tentang tanah suci beserta ahli-nya adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Kawan, seolah jengkal-jengkal tanah Madinah ini aku telah mengenalnya. Berapa banyak sumur dan siapa pemiliknya, juga berapa daftar kekayaan mereka. Sekalipun semuanya masih dalam teori di hati dan kepala –dari Sirah-nya Ibn Ishaq hingga kritik sejarahnya Khalil Abdul Karim. Tapi kali saat ini kawan, untuk kali pertama aku menginjak tanah suci Madinah, menghirup udara Madinah, mereguk air Madinah, mengibaskan debu Madinah.., Madinah…, Madinah.. I am coming with all my soul.. Read more…
Kegelisahan Seorang Haji Awam
Keberangkatan yang Menggelisahkan
Kawan, tahun ini saya berkesempatan ibadah haji ke Bayt-u ’l-Lâh. Ke Makah Kawan. Tempat terjauh yang pernah terbayangkan dalam benak kanak-kanak kami.
Dulu ketika masih kecil, terkadang kami membual mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Dan tahukan kawan, kalau ditanya, mana tempat yang paling jauh, pasti kami serempak menjawab, “Jakarta”.
Tapi Kawan, Jakarta masih kalah jauh dengan Mekkah. Ya, Mekkah adalah tempat terjauh yang tak tertandingi. Hanya rembulan yang menerangi kami bermain sruntulan, gobak sodor dan betengan yang bisa mengalahkannya. Memang masa kecil kami bersamaan dengan ‘keajaibain’ pendaratan Apollo 11 yang disiarkan ramai di radio AM kami.
Lungo kaji (berangkat haji), kawan. Saat itu belum ada penduduk di dusun kami yang pernah menginjak tanah suci. Pakdhe saya memang telah berhaji, tapi beliu tidak satu dusun dengan kami. Sekitar 3 bulan waktu beliau butuhkan untuk beribadah haji. Alangkah jauhnya, seperempat tahun kawan, waktu yang digunakan untuk ibadah haji. Bandingkan dengan Paklik saya yang ke Jakarta, belum sebulan saja sudah pulang.
Waktu kecil, ibadah haji adalah mengunjungi Mekkah, suatu tempat yang sangat juuuaauuhh… Ketika menginjak sekolah dasar, gambaran yang lebih lengkap tentang haji mulai saya kenal. Karena di SD sudah mulai dikenalkan 5 rukum Islam, yang salah satunya adalah haji ke Makkah bagi yang mampu..
Hebat kawan, ibadah haji adalah penutup dari 4 rukun Islam yang lain, itupun hanya bagi yang mampu. Di desa kami kawan, jangankan untuk berhaji, yang namanya shalat 5 waktu saja hanya sedikit orang yang mengerjakaan. Sekalipun KTP 99,99 % warga desa kami bertuliskan Islam. Zakat kawan, tidak usah bermuluk-muluk, zakat fitrah yang 2,75 kg beras saja, sedikit keluarga yang mengeluarkannya, sekalipun bukan berarti desa kami adalah desa miskin.
Memang di Bulan Ramadhan desa kami selalu ramai. Mercon (petasan) berledakan besar kecil seperti perang, sebelum pelarangan yang sangat ketat seperti sekarang. Patrol sahur, tarawih menjadi ritual tahunan yang indah, tapi
jangan tanya, berapa orang yang puasa, hanya bikin kita kecele’. Dan haji kawan, setidaknya sebagai rukun penutup, –anggapan kami– tentunya rukun-rukun sebelumnya sudah beres. Dan siapa saja yang bisa membereskan kelima rukun Islam ini tentu bukan orang sembarangan. Dianggap bukan lagi orang “sembarangan” ini yang terkadang jadi masalah.
Ketika SMP, saya mulai sedikit mengenal syarat dan rukun haji. Tapi ya itu kawan, tahu hanya sekedar teori. Teori-teori haji mengalami metamorfosis sedikit lebih canggih setelah Ibu mengirim saya ke pesantren menginjak sekolah STM di Jombang. Sedikit canggih karena sudah mulai tahu berseliwerannya banyak pendapat ulama fiqh. Boleh jadi secara teori saat itu cukuplah, dibanding bimbingan yang diberikan kebanyakan KBIH, hehe…, tapi prakteknya nol besar…
Kawan, padangan saya tentang haji mengalami perubahan yang cukup radikal ketika saya sering bergaul dengan teman-teman yang diistilahkan sebagai kelompok sosialis, semasa kuliah. Apalagi 1990-an adalah tahun-tahun di mana pengamat politik mengistilahkan saat “republik sedang hamil tua”. Banyak kontraksi-kontraksi politik membuat aktivis mahasiswa terseret dalam pusarannya. Saat itu saya mulai mengenal tokoh-tokoh yang terindikasi korupsi sekaligus kroni orde baru. Dan tahukah kawan, sebagian besar mereka bertitel haji…
Saat itu saya sudah membaca Orang Jawa Naik Haji-nya Danarto, Makna Haji-nya Ali Syari’ati, juga beberapa kesan hajinya tokoh-tokoh haji yang nyleneh. Tapi kawan, itu tidak juga membantu stigma negatif saya tentang haji. Saya menganggap jahat orang-orang yang berhaji lebih dari satu kali. Betapa tidak, orang-orang yang sudah gugur kewajibannya masih saja terus berhaji dengan biaya yang tidak sedikit di antara orang-orang yang kebutuhan makannya saja masih belum aman. Belum lagi –setahu saya– Rasulullah Saw. hanya sekali berhaji selama hidup beliau.
Terlebih setelah saya membaca tulisan Khalil Abdul Karim yang provokatif tentang peribatan yang kita, kaum Muslim lakukan. Termasuk haji yang baginya hanyalah melanjutkan ritus orang-orang arab kuno yang dihilangkan praktik-praktik syiriknya. Betapa orang-orang mengeluarkan hartanya dengan begitu banyak untuk mengikuti ritus-ritus kuno orang Arab?
Kawan, sekitar sepuluh tahun yang lalu saya pernah mengutip Novelis Brazil, Poulo Chelo ketika menulis tentang haji untuk sebuah bulletin. Dalam novel Alkemis diceritan, seorang tua penjual kristal yang tak beranjak menggunjugi Baytullah, karena itu adalah impian terakhirnya. Ia tak bisa membayangkan jika ia telah berhaji, maka ia tak lagi punya impian. Maka ia akan kehilangan semangat hidup. Ini berbeda dengan si anak gembala –tokoh sentral dalam novel itu– yang berusaha keras menggapai mesir, mencari sang alkemis (pengubah besi menjadi emas).
Pesan Poulo Chelo, hidup harus punya impian yang besar, dan untuk menggapainya, harus kerja keras dengan kesungguhan hati. Hajiku kali ini kawan, apakah juga sebuah impian besar? Jika tidak, maka mentalku tidak akan pernah mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh. Dan, akupun berhaji hanya karena Allah Swt. memberikan kelonggaran materi kepadaku. Na‘udzubillah min zdalik..
DESA NGEMBEH: “Kajian Sejarah”
Pendahuluan
Orang yang tidak tahu sejarah, adalah orang yang tidak tahu apa-apa, begitu kata pepatah Arab. Ingat jas merah, jangan lupa sejarah, kata Bung Karno, Presiden Pertama RI.
Pentingkah kita tahu sejarah? Apa itu sejarah? Menyimak pepatah dan pesan Bung Karno di atas, mengetahui sejarah menjadi sesuatu penting, agar kita tidak terjerembab pada kesalahan yang sama. Bagi kita penganut Agama Islam, mengetahui sejarah menjadi sesuatu yang penting sebagai pembelajaran, Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Hûd [11]: 120.
Apakah sejarah? Mungkin kita masih ingat pelajaran di sekolah dulu. Bagi ahli sejarah, tulis-menulis adalah pembagi dua era, era prasejarah dan era sejarah. Akibatnya, sebesar apapun kontribusi seseorang maupun komunitas bagi peradaban belumlah dianggap sebagai sejarah –paling jauh dianggap dongeng maupun lengenda– jika tidak terdapat dokumentasi atau artefak penanda / simbul. Jadi secara teknis, sejarah adalah segala sesuatu dan apa saja pada waktu yang telah lewat yang didokumentasikan oleh sebuah penanda / simbul. Mungkin kegiatan (penulisan sejarah desa) ini juga bagian dari memasukkan foklor desa ke dalam sejarah.![]()
Waktu sendiri, secara filsafat adalah durasi antar kejadian. T Read more…
Kebencian Adalah Cinta Yang Terluka
Bism-i ’l-Lâh-i ’r-rahman-i ’r-rahîm..
Assalâmu ‘alaykum Wr. Wb.
Adik Dyan,
Sungguh…, teramat jarang saya menulis dengan jiwa tertekan begitu dalam, seperti saat ini. …Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.., (QS. Yusuf [12]: 86). Namun, diiringi murrattal Juz 30 Syeh Mishary Rashid al-Afa yang mendedah hati duka, saya berusaha terus menulis dan berharapan, semoga Adik Dyan sempat membaca hingga usai…
Dik Dyan, betapa sedih hati ini, tanaman yang kutaburkan dengan tanganku sendiri kini telah porak poranda oleh ulahku sendiri. Aku seperti …perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (QS. An-Nahl [16]: 92). Read more…
Dahulukan akhlaq di atas Fiqh
Bism-i ’l-Lâh-i ’r-rahman-i ’r-rahîm..
…Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. an-Nisâ’ [4]: 1).
Konsultasi?! Wah mBak, saya bukan konselor. Apalagi dukun (bodho pikun, hehe…). So, kalau ada masalah sharing dengan saya, dijamin, masalahnya ndak tambah selesai-selesai, hehe…
Trim’s untuk komentarnya, di sela-sela kesibukan mBak Dyan yang padat.
Komentar mBak Dyan membuat saya tidak bisa menulis apa-apa kali ini, minder berat, hehe…. Saya bukan penulis, mBak. Cuma di waktu senggang (walah…, padahal ndak pernah sibuk) biasanya saya gunakan membaca. Dan dari bacaan itu saya jadi sedikit faham, kenapa dunia tulis-menulis jadi pembeda antara era sejarah dengan era pra-sejarah. Karya tulis itu mengenalakan saya padaa mereka beserta pandangan hidupnya sekalipun mereka telah wafat berabad-abad silam. Mereka menjadi entitas sejarah. Read more…




