Tanpa Referensi di Tanda Koma

Agustus 21, 2008

Bism-i ’l-Lâh-i ’r-rahman-i ’r-rahîm..

…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (berketapan hati), maka bertawakkallah kepada Allah…(QS. Ali Imrân [3]: 159.)

mBak Dyan….

Sungguh saya mohon maaf, jika memang hari-hari mBak Dyan kurang nyaman akhir-akhir ini. Mungkin ini disebabkan kesalahan saya (yang kuno dan tradisional ini) memaknai sikap diam mBak Dyan. Sekali lagi saya mohon maaf!

Dulu, ketika saya ngaji fiqh –sepengetahuan saya yang bodoh– ketika seorang gadis berdiam diri ketika ada yang berniat mengenalkan diri, itu bermakna ada peluang untuk membuka hati. Yang ini tidak berlaku bagi seorang perempuan yang pernah menikah (janda). Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. (QS. al-Baqarah [2]: 235)

mBak Dyan, ternyata saya salah. Tidak semua gadis yang berdiam diri itu membuka peluang pintu hatinya diketuk laki-laki yang berniat mengenalnya. Ah, zaman bergerak teramat cepat, yang tak sanggup aku pahami sekalipun dalam mimpi, meminjam istilah Khalil Gibran.

mBak Dyan yang baik. Saya memahami sikap waspada yang mBak Dyan lakukan terhadap saya. Jika terhadap seseorang yang dikenalkan oleh orang yang kita kenal baik saja, seringkali kita bersikap jengah, apalagi dengan orang yang mengenalkan diri tanpa ada yang memperantarai seperti saya saat ini. Dipastikan akan bertambah lebih jengah lagi. Barangkali ini yang melatari sikap diam mBak Dyan, yang berujung kesalahpahaman saya.

mBak Dyan, sesungguhnyalah saya hanya mengenal mBak dari portofolio, selebihnya saya tidak tahu apa-apa. Dan keunikan itulah yang mengantarkan saya untuk berkenalan, hingga mBak Dyan diamkan sampai saat ini.

mBak Dyan yang cerdas…, kalau saja saya diberi kesempatan bersilaturrahim, dan mBak Dyan tentu bisa menyatakan sikap lebih lugas. InsyaAllah itu akan jauh lebih baik dibanding berdiam diri. Barangkali mBak Dyan segan mengambil sikap (yang menurut fikiran mBak) akan menyakiti saya. mBak percayalah, saya berusaha terus belajar untuk lilLâh-i Rabb-i ’l-‘âlamîn, seperti iftifah kita di awal shalat. mBak…, insyaAllah tidak ada yang tersakiti dari sikap apapun yang diambil nanti. Tidakkah saya tahu mBak Dyan sebatas portofolio?!

Selebihnya sudah menjadi ‘azam saya, apapun itu, akan saya gunakan untuk belajar menjadi sarana mengabdi pada Tuhan kita. Jika mBak Dyan berkenan berkenalan dengan saya, semoga ini bisa menjadi jalan saya beribadah dengan cara saya belajar pada mBak Dyan hal-hal baru yang belum pernah saya alami. Namun jika mBak Dyan tidak berkenan berkenalan dengan saya, semoga kesabaran bisa menjadi tangga untuk menggapai rahmat-Nya. Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu… (QS. Ali Imrân [3]: 186.

Diam dirinya mBak Dyan memang sebuah pelajaran, tapi kebodohan saya ini mendesak saya untuk bertanya, saya harus memulai pelajarannya dari mana. Kalau saja mBak Dyan bisa mengajari saya dengan respon yang lebih aktif dibanding saat ini, tentu saya sangat bersyukur. Bahkan misalnya, untuk sebuah kata dari mBak, bahwa komunikasi kita saat ini ‘tidaklah ma’ruf’, sekalipun. Dan…, saya pun akan berhenti.

mBak Dyan yang murah hati, saya tidak tahu surat ini nanti akan dibalas, atau tidak. Sudah pasti saya berharap surat ini mendapat respon yang hangat. Tapi sebuah karya yang sudah dipublikasikan, sekalipun hanya pada satu orang, sesungguhnya bukan benar-benar milik penulis lagi, begitu pesan Gus Mus (KH. Musthafa Bisri). Apapun responnya adalah kewenangan dari yang menerima pesan. Itulah sebabnya penulis seharusnya betul-betul jujur sebagai bentuk pertanggungjawabannya pada penerima pesan.

mBak Dyan, saya sangat berharap tulisan saya ini masih sampai di “tanda koma”. Semoga masih ada komunikasi hangat yang bisa lebih mengakrabkan kita. Selanjutnya, seperti yang menjadi pembuka surat ini, …Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (berketapan hati), maka bertawakkallah kepada Allah

Entry Filed under: Surat-Surat. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



Selamat Datang

 

Agustus 2008
S S R K J S M
    Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip

Tulisan Terakhir

Kategori

Komentar Terakhir

yobroo di Madinah: Kubah Hijau yang…
justdy di BIDADARI DI UJUNG RAMADHA…
Galuh di BIDADARI DI UJUNG RAMADHA…
fath di BIDADARI DI UJUNG RAMADHA…
ummu fatimah di BIDADARI DI UJUNG RAMADHA…

Blog Stats

Klik tertinggi

Meta

Kamus OnLine

Blog Orang Beken

Blogroll

Friends

Kajian Islam

Situs Keislaman