Jum’ah pagi, 14 Nopember 2008 pesawat Saudi Air mendarat di Madinah. Kota Suci ketiga yang sangat dirindukan oleh umat Islam yang tersebar di seluruh penjuru bumi. Jika Kawan membayar ONH Plus, mungkin Tanah Suci Ketiga ini tidak masuk dalam agenda perjalanan dengan biaya yang lebih mahal. Saat itu iklim Madinah hangat bersahabat (sekitar 26-28 oC), mirip di tanah air, Mojokerto khususnya…

Kawan, saya mendarat dengan segala penasaran membuncah. Kota oase di semenanjung Arab ini namanya sudah saya dengar semenjak masih kecil, menemani tidur dari dongeng ayahku. Nama Madinah makin akrab seiring dengan pertumbuhan usiaku dari para guru dan buku-buku. Semakin akrab lagi ketika aku mengambil studi Syari’ah untuk magisterku, yang pengetahuan tentang tanah suci beserta ahli-nya adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Kawan, seolah jengkal-jengkal tanah Madinah ini aku telah mengenalnya. Berapa banyak sumur dan siapa pemiliknya, juga berapa daftar kekayaan mereka. Sekalipun semuanya masih dalam teori di hati dan kepala –dari Sirah-nya Ibn Ishaq hingga kritik sejarahnya Khalil Abdul Karim. Tapi kali saat ini kawan, untuk kali pertama aku menginjak tanah suci Madinah, menghirup udara Madinah, mereguk air Madinah, mengibaskan debu Madinah.., Madinah…, Madinah.. I am  coming with all my soul..

450 orang keluar pesawat menuju bandara, kebanyakan ini juga untuk kali pertama. Kami bertemu dengan orang Arab asli –bukan arab perantauan, seperti Arab Ampel, Bangil atau Kasin Malang. Mungkin saja mereka juga keturunan sahabat Anshar yang diberkahi oleh doa-doa Nabi Saw.

Setelah pengecekan pasport bebeapa menit, kami “digiring” menuju bus-bus yang sudah tersedia. Kawan, tidak bisa efisien ternyata bukan hanya kebiasaan bangsa kita, di ‘tanah impian’ ini pun kami mengalami masalah yang sama. Beberapa menit –atau bahkan jam barangkali– kami menunggu di dalam bis dengan segala kepenatan setalah penerbangang  10 jam dari Juanda, Surabaya. Saya jadi teringat pengalaman Ziauddin Sardar dengan orang-orang Saudi dalam Desperately Seeking Paradise. Untunglah saya bukan orang penting dan sedang bersama rombongan dari bangsa yang terkenal tidak suka bikin usil, Republik Indonesia yang “manis”, jadi tidak sedramatis pengalaman Ziauddin Sardar.

Jika kita hadir ke Madinah, apa yang pertama melintas dalam benak kita? Tepat!!! Masjid Nabawi beserta makan Rasulullah Muhammad Saw. Yang mungkin luput dari ingatan kita adalah kenyataan, bahwa kota aose ini pernah menjadi Ibu Kota pemerintahan negara yang berhasil mengalahkan 2 kerajaan adikuasa dalam waktu yang relatif bersamaan, Romawi dan Persia di masa Khalifah Umar ibn Khaththab. Dan baru berpindah ke Kuffah di masa Khalifah ‘Alî ibn Abi Thalib, mungkin untuk menghindari kerusakan yang lebih parah akibat Fitnah al-Kubra.

Tanah ini dan penduduknya sangat dicintai Nabi Saw. Kita masih bisa merasakan kehangatan cinta beliau Saw. pada saat usai Perang Hunai. Begitu harta rampasan perang yang berlimpah sebagian besar diberikan pada orang Makkah, para sahabat Anshar cemburu dan khawatir, Nabi Saw. akan tinggal di Makkah, tanah kelahirannya. Lebih kurang inilah dialog yang selalu membuat saya terharu;
Muhammad    :    Saudaraku kaum Anshar, ada desas-desus yang sampai kepadaku yang merupakan perasaan isi hatimu kepadaku. Bukan? Bukankah kamu dalam kesesatan ketika aku datang, kemudian Tuhan membimbing kamu? Kamu dalam kesengsaraan, lalu Tuhan memberikan kecukupan kepadamu? Kamu dalam permusuhan, Tuhan menyatukan kamu?
Anshar    :    Ya, memang! Tuhan dan Rasul juga yang lebih bermurah hati.
Muhammad:    Saudaraku kaum Anshar, kamu tidak menjawab kata-kataku?
Anshar    :    Dengan apa kami harus menjawab, ya Rasulullah? Segala kemurahan hati dan kebaikan itu ada pada Allah dan Rasul-Nya?
Muhammad:    Ya, sungguh demi Allah! Jika kalian mau, tentu kamu bisa berkata –kamu benar dan pasti dibenarkan– ‘Engkau datang kepada kami ketika engkau didustakan orang, dan kamilah yang mempercayai kamu. Engkau ditinggalkan orang, dan kamilah yang menolongmu. Engkau diusir, kamilah yang memberi tempat. Engkau dalam sengsara, kamilah yang menghiburmu.’ Saudarku kaum Anshar! Adakah sekelumit rasa keduniawian itu di hatimu? Dengan itu aku mengambil hati mereka agar sudi menerima Islam, sedangkan terhadap keislamanmu aku telah percaya. Tidakkah kamu rela, saudaraku kaum Anshar, jika mereka itu pergi membawa kambing, unta, sedangkan kamu pulang membawa Rasulullah ke tempatmu? Demi Dia yang memegang hidup Muhammad! Jika tidak karena hijrah, tentu aku termasuk orang Anshar. Jika seseorang menempuh suatu jalan di celah gunung, dan kaum Anshar di jalan yang lain, pasti aku akan menempuh jalan kaum Anshar. Allahumma Ya Allah, rahmati anak-anak kaum Anshar dan cucu-cucu kaum Anshar..[ Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, terj. Ali Audah dari Hayâti Muhammad, (Bogor: Litera Antarnusa, 1994), h. 486-487.]
Kawan, di sinilah kita bisa merasakan, kaum Ansharlah yang menerima Islam dengan ihlas –tentu saja dengan Muhajirin– sementara masih banyak orang Arab yang enggan menerima Islam.

Setelah menunggu beberapa jam, kami diantar ke maktab yang berjarak ± 1 km dari Masjid Nabi. Kami tak mau memboroskan waktu di maktab. Setelah shalat dzuhur-asyar dengan cara dijama’ ta’khir, kami bergegas menuju masjid Nabi Saw. Menjelang maghrib saya sudah berada di masjid Nabi.

1

Kawan, saya sempat tertegun. Dada ini terasa sesak tertekan keharuan. Hati ini terasa bergetar, dan dari sudut-sudut mata ini tanpa sadar meleleh air mata haru tak tertahan. Alhamdulillah Ya Allah.., Engkau beri kesempatan hamba menziarahi Rasul-Mu. Betapa saya amat merindukan moment ini, sebelum kelak kami bertemu beliau yang sesungguhnya di akhirat (maunya saya sih…). Saya perhatikan sekeliling, bermacam-macam bangsa berkumpul di masjid ini untuk menziarahi beliau Saw.

Kawan, setiap kali orang berdebat tentang ajaran Islam, mereka semua pasti merasa paling sesuai dengan ajaran Nabi Saw. yang mulia ini. Sekalipun terkadang pendapat-pendapatnya itu bertolak belakang sama sekali. Baik itu di bidang fiqh, perincian-perician aqidah, siyasi kenegaraan, filsafat, strategi budaya dan sebagainya, inilah yang terkadang membuat saya semakin kangen dengan beliau Saw., pingin bertanya langsung, apa yang sebenarnya Allah Swt. inginkan kepada kita, karena hanya beliau Saw. yang bisa menerima wahyu. Sudahlah kawan, mungkin ini hanyalah ‘kecengengan intelektual’ saya saja. Yang jelas kawan, saya masih punya waktu 7 hari lagi di tanah yang diberkahi ini.

Kawan, jika di hari ptertama belum terlalu ramai karena sebagain jama’ah haji ada yang belum datang. Inilah yang membuat saya berkesempatan ke Raudhah, di hari kedua dan seterusnya ke Raudhah menjadi sesuatu yang tidak mudah karena jama’ah ziarah berduyun-duyun telah memasuki Madinah.

Sekali waktu saya bertanya, melihat situasi yang tidak memungkinkan ke Raudhah tanpa menyakiti jama’ahnya yang telah berjubel mengantri, kenapa masih saja memaksa. Mereka menjawab, tidaklah bermasalah menyakiti saudara muslimnya, demi mendapatkan keutamaan ibadah yang berpahala besar. Tentu ini membuat saya kaget. Tidakkah Allah Swt. berfirman, Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka… (QS. Al-Fath [48]: 29), juga firman, Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (QS. at-Tawbah [9]: 128).

Kawan, ini di tanah haram, dan di hadapan pusara Rasulullah Saw. tercinta yang menyampaikan firman-firman itu. Dan aksi ini semakin menggila nanti di Masjid Haram, di tempat-tempat multazam. Ini yang membuat saya tidak habis pikir. Mungkin ini juga yang membuat kita tidak juga bisa membebaskan al-Aqsha –tanah suci ketiga– dari kangkangan orang-orang Israel, karena kita gagal menentukan prioritas peribadatan, juga medan perjuangan.

Menjelang berakhirnya arba’in –sekalipun hadis tentang shalat arba’in di masjid Nabi Saw. 40 waktu ini dhaif– saya berkesempatan berziarah ke komplek pemakaman Baqi’, tempat sebagian besar sahabat dan ahl-u ’l-bayt Nabi Saw. dimakamkan. Tapi kawan, betapa sedihnya hati ini, di Baqi’ kita kehilangan sejarah. Kita yang biasa mendengar nama-nama beliau, keihlasannya, kehebatan dan kesalihan sahabat-sahabat di sekeliling Nabi Saw. dari berbagai buku sejarah menjadi bodoh karena tidak bisa menunjukkan mana-mana pusara beliau-beliau. Menyedihkan, ini merupakan kebodohan yang luar biasa.

Terkadang saya juga memaklumi, melihat beberapa saudara kita begitu histeria ketika memasuki makam para sahabat ini. Namun, bukanlah tindakan yang bijak, karena alasan itu kita harus menghilangkan situs-situs bersejarah, yang darinya kita bisa belajar banyak belajar.

Bersambung… Makkah: Tanah Haram yang Ditaklukkan