Spiritualis tanpa aktifisme adalah klenik…
Aktifisme tanpa spiritualis sejenis kebrutalan…

Brutalkah ayahmu? Malam ini ayahmu tersudut, hampir 5 bulan ini ayah bergerak, bergerak dan terus bergerak. Tapi sungguh ayah belum mengerti, 5 bulan terakhir ini ayah bergerak untuk apa? Setahu ayah, ada orang yang tidak pernah berhenti bergerak karena mengejar sesuatu, atau dikerjar sesuatu.

Tapi sungguh anakku, malam ini ayah benar-benar tak tahu, ayah mengejar apa? Dan sedang dikejar apa? Ayah merasa, ibumu sedang berubah. Anakku, ibumu orang yang baik, sangat baik malah. Jika saat ini terasa ada yang berubah, hampir 100% bisa dipastikan ada yang tidak beres pada diri ayahmu.

Anakku, cukup lama ayah tidak menulis, hampir 5 tahun. Ya, karena pergerakan itu tidak memberi kesempatan untuk merenung. Aktivitas merenung menjadi sesuatu yang “mahal”. Mungkin saatnya ayah harus menulis lagi. Karena kejenuhan ini hampir membatu. Ayah jenuh, Nak! Padahal ayah seorang wiraswasta, yang berhenti dan bergerak berdasarkan keputusan ayah sendiri. Ayah membayangkan, bagaimana jenuhnya orang-orang yang bekerja atas instruksi orang lain?

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (al-‘Ankabût [29]: 2), begitu firman Allah Swt. yang selalu membuat jiwa ayah selalu terkembang.

Anakku, ayahmu sedang diuji kejumudan. Kejumudan pikiran sendiri yang tidak berkembang. Setiap ke Malang mengantar ibumu tercinta sambang, sowan ke kakek dan nenekmu, ayah sempatkan mampir ke Togamas, toko buku tempat nongkrong ayah dulu. Jujur, sekarang jarang sekali ayah menemukan buku yang bernas seperti buku-buku di tahun 90-an.

Maaf, kebanyakan isinya khotbah, doa-doa dan cerita-cerita. Bukannya ayah tidak suka khotbah dan doa, apalagi cerita sastera. Tapi ayah merasa sudah over dosis penerbitan buku-buku jenis itu. Bahkan ayah berdoa, semoga engkau  yang kini sedang dikandung ibumu kelak menjadi seorang mujahid, mujtahid dan mujahadah.

Dalam benak ayahmu yang bodoh ini, harus menjadi mujahid dulu, bersungguh-sungguh menjalani hidup ini, sekalipun terkadang hasilnya tidak sesuai dengan yang kita perhitungkan. Harus menjadi mujtahid yang berfikiran lurus berhati bening, jika tidak ingin gagal dalam jihad. Baru kemudian menjadi mujahadah, jika tidak ingin amal kita terkatung-katung tergantung di kaki langit.

Anakku, apakah karena kita sekarang hidup di zaman instan dan pencitraan? Sehingga tidak lagi punya cukup kesabaran dalam proses kehidupan.
Wallahua’lam…