Tahun 1993 saya masuk kota Malang. Kota kecil dengan sejuta potensi. Jalan Kertoraharjo Ketawanggede menjadi labuhan kedatangan saya dari Jombang. Om Jhon, anak PII adalah karib pertama saya di Malang. Anak PII asal Ngadiluwih Kediri yang lelap tidurnya diiringi cerita-cerita aksi sepihak PKI/BTI kepada Training PII tanggal 19 Januari 1965 di Kanigoro, Kras, Kediri. Cerita yang membuatnya selalu sigap melawan  pihak-pihak yang dianggap membahayakan umat Islam.

PII menolak azas tunggal Pancasila, sikap yang diambil dengan resiko menjadi ormas “underground”. Militan?! Sudah pasti. Sekalipun (maaf) tidak begitu pandai mengaji, tapi semangat juangnya lebih bergelora dibanding kebanyakan anak-anak santri. Terutama dibanding saya yang baru pulang dari pesantren. Jika sebelumnya saya berbekal segebok kosep faham keislaman yang kebanyakan dari abad pertengahan, di hadapan saya tanpa banyak konsep  tapi ideologis dengan semangat yang menggedor-nggedor.

“Persekutuan aneh”. Mungkin secara tidak sadar watak “militansi” a la PII merembes dalam kehidupan saya, sekalipun secara ideologi belum juga terbentuk. Sebaliknya, dengan nada seloroh Om Jhon seringkali berkata, sayalah yang paling merusak militansinya. Misalnya, setelah saya bercerita proses terjadinya shalat tarawih berjama’ah di masjid pada zaman Khalifah Umar Ra. Saat malas datang ketika malam Ramadhan, dengan seloroh ia pun menjawab, sudah tahu kalau tarawih berjama’ah bid’ah kok masih ngajak-ngajak, jawabnya sambil tertawa-tawa.

Begitu pun ketika saya bercerita pengumpulan Qur’an, bagaimana Abu Bakr Ra. semula menolak usulan Umar Ra. dengan alasan, itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. hingga Umar perlu mengulang usulannya. Begitupun ketika instruksi ini diberikan kepada Zaid bin Tsabit, jawab Zaid, Rasul tidak pernah melakukan ini. Dan ini dibahas Imam Bukhari, otoritas tertinggi dalam bidang Hadis Sunni.

Saya tidak pernah mengatakan tindakan ini bid’ah. Tapi ia yang dibesarkan di Muhammadiyah yang pada sejarahnya mengusung jargon TBC (tahayul, bid’ah dan curafat) seperti menangkap arah pikiran saya. Kalau tidak ada bid’ah dan bid’ah lagi, mungkin kita tidak pernah bisa membaca Qur’an lagi, lhawong tulisan arab zaman Nabi Saw. tidak ad kharakat-nya, bahkan tidak ada titiknya, seloroh saya nyengir. Kecuali kalau membaca Qur’an bukan bagian dari ibadah, selesai sudah. Belum lagi kalau saya ceritakan suasana sosial-politik zaman sahabat dan dan tabi’in menurut literatur Syi’ah. Tambah pusing kita membedakan mana sahabat yang lurus, mana yang “kurang lurus”.

Persekutuan aneh ini diayomi oleh Mas Yusuf, mahasiswa kharismatik yang saleh. Beliau senior saya di pesantren, berasal dari Ngadiluwih asal Om Jhon. Mas Yusuf berkepribadian tenang, hampir sulit kami menemukan ekspresi berlebihan dari roman wajah beliau yang klemis rapi dan selalu tersenyum itu. Perilakunya yang santun, sederhana membuat setiap orang tua yang normal, bisa dipastikan kepincut ingin mengambil mantu Mas Yusuf. Konon, ia juga pernah digadang-gadang jadi menantu Abah Kyai, tapi Mas Yusuf-nya tidak bersedia. Konon lhoo…..

Beda dengan saya yang dari NU masuk pesantren NU, Mas Yusuf Muhamaddiyah masuk pesantren NU. Karena racikannya beda, hasil citra rasanya pun beda. Mas Yusuf menjadi salafi yang santun. Beliau mengajari saya bagaimana menjadi Muslim yang baik. Pada malam tertentu saya dibonceng dengan Honda Supercup 800 warna hitam yang sudah dimilikinya sejak di pesantren dulu. Secara matematika ekonomi, ia bisa mendapatkan lebih dari itu. Terlebih beliau anak tunggal. Jangan hambur-hamburkan sumberdaya, masih banyak yang lebih membutuhkan, begitu katanya. Dengan sepeda motor yang umurnya sudah lebih dari 10 tahun kala itu kami menyusuri jalan sore menuju Wajak. Mengaji Shahih Bukhari pada Ustadz Rahmad al-Arifin, ulama alumni Madinah dengan predikat Cumlaude, yang berusaha memindah arsitektur masjid madinah ke Wajak.

Saya juga pernah diajak ke Peniwen, Donomulyo tempat Kristenisasi yang sempat menghebohkan, lalu terlibat dalam upaya advokasi kaum Muslim yang ditindas. Pernah juga dengan sepeda yang itu-itu juga, saya dibonceng ke Gunung Kawi, tempat kemusyrikan paling wahid di Jawa, kata Mas Yusuf. Yang unik lagi dari Mas Yusuf, setiap nderes Qur’an, ia menterjemahkannya secara lantang. Sekalipun seorang diri di kamar.

Sampai akhirnya Mas Yusuf mendapati buku Falsafatuna-nya Muhammad Baqir as-Sadr di kamar saya. Tanpa ada perubahan sedikitpun di roman wajah dan seraya tersungging senyum di sudut bibir ia berkata, “Dik, tidak perlulah kita membaca buku-buku seperti ini. Tidak banyak manfaatnya.” Salafi yang santun. Bandingkan dengan rata-rata penganut salafi lain yang seringkali mengobarkan fahamnya dengan membidas dan “memaki” faham lain. Sampai saat ini saya belum pernah berinteraksi penganut salafi yang begitu santun.

Bukanya berhenti. Saya malah penasaran sama filsafat Islam. Jurnal Ulumul Qur’an Vol. IV, No. 3 terbitan LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) menjadi pengantar saya untuk mendapatkan semua edisi terbitannya. Lalu jurnal Al-Hikmah-nya Yayasan Munthahhari yang dianggap kesyi’ah-syi’ahan, Islamika-nya MISSI (Masyarakat Indonesia untuk Studi-Studi Islam). Sementara interaksi dengan Mas Yusuf semakin jarang. Beliau sudah menyelesaikan studinya di Teknik Mesin Brawijaya lalu kerja di Gresik. Om Jhon yang mengiringi petualangan pikiran saya semakin realistis (makin “rusak” menurut ungkapannya) menyikapi banyaknya faham-faham yang berkembang di Dunia Islam sejak zaman sahabat sebagai zaman sekarang.

Saat di Ketawanggede kontrakan kami menjadi markas anak-anak majalah mahasiswa di sekitar Unibraw. Tentu saja dengan persaingan Omek (organisasi ekstra kampus) dibelakangnya. Saat itu HMI, PMII, GMNI dan anak-anak Fordem (Forum Demokrasi) menjadi warna dominan di majalah kampus. Kenapa kontrakan kami? Ya, kontrakan kami ada rental komputer. Di sinilah teman-teman menggodok materi yang akan diterbitkan. Jangan bandingkan suasana “hamil tua reformasi” dengan sekarang. Mesti ekstra hati-hati menurunkan materi yang dimuat, kalau tidak mau besok menginap di Bakorstanasda. Kalau MBM Tempo, Editor dan Detik saja bisa “ditekuk”, apalagi kelas teri di kampus-kampus. Bisa-bisa tinggal nama saja di daftar redaksi, orangnya “hilang”.

Keluar masuknya teman-teman semakin membentangkan cakrawala saya untuk tidak cuma berkutat dengan tugas kuliah. Selain itu teman-teman tabligh hampir tiap hari mampir ke rumah. Menyirami ruhani kami dengan nasehat-nasehatnya. Beberapa kali saya berkunjung ke Masjid Pelma markas Jama’ah Tabligh di Malang. Namun pikiran saya yang sudah bersentuhan dengan pijar filsafat Islam terlalu berkobar untuk bisa ikut begitu saja semua program-program Jama’ah Tabligh yang menurut saya “kurang strategis” dalam berdakwah.

Ruang kelas kecil di pojok kampus yang disulap menjadi mushalla menjadi ampiran saya jika waktu shalat datang ketika kuliah. Mushalla darurat kecil yang kurang layak dibanding kampus yang cukup besar. Ketika ngantri shalat seorang mahasiswa senior menghampiri saya, namanya Mas Yusriansyah. Beliau bercerita pertentengan vertikal antara mahasiswa Muslim di ITN dengan pengendali ITN yang mayoritas non-Muslim. Mahasiswa “pembangkang” ini menghimpun dalam LDI (Lembaga Dakwah Islamiyah), LDK (Lembagan Dakwah Kampus)-nya ITN. Bukan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) lho…, karena seringkali orang salah sangka. Saya yang sendang mengikuti perkembangan theologi pembebesan ikut tersulut oleh provokasi Mas Yus.

Pada akhirnya LDI menjadi tempat saya kuliah mulai tahun ‘94, namun saya aktif di ITN angkatan ’93, begitu seloroh kami ketika itu. Seloroh yang jika dipikir-pikir ada benarnya. Kami lebih aktif di LDI dari pada kuliah. Di LDI saya bertemu dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang beragam dari seantero Indonesia. Ada NU-Muhammadiyah yang harus menunda debat khilafiyahnya, demi menghadapi masalah yang sama. Ada HMI-PMII yang harus menurunkan benderanya demi bendara LDI yang sedang “berseteru” dengan struktural kampus. Ada mahasiswa yang semangatnya luar biasa membela kaum Muslim, sekalipun shalatnya jarang-jarang. Ada yang shalatnya terlihat khusu’ dan pandai mengaji, tapi kalau pas genting-gentingnya ia lari duluan. Ada yang pacaran saja. Ada yang seniman baru kelihatan kalau pas ada perhelatan yang musik dan dekorasi. Intinya, di LDI saya menemukan beragam potensi mahasiswa -tentu saja sebanding dengan beragam potensi konfliknya- mencoba untuk dikelola menjadi energi yang mempunyai tujuan yang sama: Mahasiswa Muslim di ITN dan sekitarnya menjadi lebih baik dengan semangat Islam.

LDI hampir “memakan” umur saya di Malang (Bersambung…)